Selasa, 29 Januari 2019

Akhirnya WhatsApp Dibatasi!!

Hai teman-temin...
Kali ini kulo meh berbagi info soal pembatasan pada platform WhatsApp (WA) yang beredar dalam pemberitaan media mainstream beberapa hari ini. Tujuannya adalah untuk membatasi penyebaran berita bohon alias HOAX!

Hoax ki opo to??
Beberapa tahun ini istilah hoax (baca : hoks) muncul sebagai istilah populer di dunia, terlebih sejak pemilu di Ameriak Serikat yand dimenangi oleh Donald Trump lalu terjadi pula pada moment pilpres Perancis, di Eropa. 
Namun sejak kapan sebenrnya hoks itu berawal? Kata hoax pertama kali muncul populer di pertengahan hingga akhir abad ke-18. Berasal dari kata hocus,   yang berarti bohong --penggalan dari istilah pesulap Hocus Pocus yang berarti fokus mengelabui. Istilah ini (hocus) semakin populer awal abad 17.  Truss belakangan ada juga yang mengkaitkan hoks dengan budaya april mop yaitu "candaan" dengan berita bokis alias bo'ong.

Kalo menurut  kamus Cambrige mengartikannya sebagai penipuan untuk tujuan melucu atau jahat. Ada pula  merriam-webster yang memaknainya untuk mengelabui seseorang dan menjadikan percaya atau menerima sesuatu yang palsu dan seringkali tidak masuk akal.

Tujuan penggunaan hoks sendiri sangat beragam, mislanya untuk menjatuhkan seseorang dalam sebuah persaingan, untuk menimbulkan rasa takut,  ketidak percayaan dan seterusnya yang semuanya merupakan tujuan negatif. Tujuan negatif dengan hal cara yang negatif, atau cara negatif untuk tujuan negatif.

Nah, kembali ke soal rencana WA tadi....
Ibarat mata uang yang mempunyai dua sisi berbeda, TI juga demikian, satu sisi dapat sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, disisi lain dapat menjadi sarana untuk kejahatan. termasuk didalamnya dalam penyebaran berita bohong.  Seseorang dengan mudah menyebarkan informasi yang dianggap baru dan menarik. Hanya dengan sekali pencet seseorang akan merasa lebih tahu atau menjadi yang pertama tahu diantara komunitasnya. Padahal info tersebut belum tentu benar. 

Hayoo siapa yang pernah turut menyebarkan berita yang belum terkonfirmasi dengan pasti? Hal ini wajar sekali dalam masyarakat yang sedang memasuki massa transisi dalam revolusi industri 4.0. Dimana dengan jaringan internet seseorang dapat terkoneksi secara realtime keseluruh dunia melalui jejaring sosial. Eforia teknologi menyebabkan efek serba instan dan keinginan menyerap dan menyebarkan informasi secara cepat. Eksustensi seseorang dicapai dengan cara instan.

Berhubungan penyebaran hoks menurut berbagai penelitian banyak menggunakan platform WA, maka WA didesak untuk membuat suatu aturan yang memungkinkan untuk menahan laju penyebaran hoks. 

Apa yang dibatasi WA?

Dalam pernyataan resminya WA yang merupakan platform dibawah Facebook ini membatasi fitur Terusan (Forward)  hanya ke maksimal 5 tujuan baik kontak atau grup. Jika kita  memilih lebih dari lima kontak, maka akan muncul notifikasi berupa pop-up yang menginformasikan bahwa kita sudah mencapai batas maksimal. Jumlah ini sangat jauh berkurang dibanding sebelumnya, yang memperbolehkan kita meneruskan pesan hingga 250 kontak/tujuan. WhatsApp juga menghilangkan tombol pintas " shortcut forward" yang biasanya ada di samping konten media. Jadi jika selama ini  kita bisa  menyebarkan informasi dengan fitur forward langsung ke banyak tujuan, tidak akan bisa lagi. 

Itulah teman-temin, apapun itu teknologi akan selalu berkembang menyesuaikan kebutuhan manusia untuk mencapai peradaban yanglebih maju lagi, tentusaja dengan berbagai efek kejut yang sering membuat sebagain orang merasa terganggu dan memanfaatkannya untuk kepentingannya sendiri. Secara prinsip tekologi dengan berbagai aspeknya adalah merupakan alat, seperti halnya pisau, akan buruk atau baik, tergantung yang makai. Mau buat meracik masakan lezat atau buat bunuh orang?

so, jadilah smart people yang menggunakan smartphone! :)

STOP HOAX!! LAWAN HOAX!!

Bravo Sicrema!

.lkm












Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda punya pendapat? Silakan tulis komentar. Komentar tidak boleh mengandung SARA, ujaran kebencian, HOAX. Admin tidak bertanggungjawab atas isi komentar.